Pendakian Gunung Lawu Jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu

pendakian gunung lawu

Pendakian gunung lawu desember 2010, saya naik jalur cemoro sewu dan turun melalui jalur cemoro kandang. Sebelum keberangkatan menuju tempat tujuan, saya kumpulkan data informasi tentang lokasi dan transfortasi. Memilih peralatan dan logistik.

Dari tasikmalaya saya berangkat menggunakan kereta api. Turun di station solo jebres. Dari solo jebres berjalan kaki kira-kira 200 meter lalu naik bus menuju tawangmangu. Perjalanan dari solo jebres ke tawangmangu kurang lebih menghabiskan waktu 1-2 jam. Dari tawangmangu naik angkutan pedesaan, memakan satu jam sampai di pos pendakian cemoro sewu.

Dari awal pengumpulan informasi tentang gunung lawu jalur cemoro sewu, semua sumber mengatakan pendakian ini akan sangat ringan. Dengan tenang saya mulai pendakian pada jam 10.00 WIB.

Jalanan mulai menanjak dari gerbang pendakian, saya sempat mengira pendakian ini akan mudah saja. Awalnya memang benar, mudah sekali karena jalur yang saya lewati berupa tangga bebatuan yang terbentuk layaknya tangga eskalator. Semakin tenang saja saya berjalan, bahkan sambil bercanda dengan teman seperjalanan.

Apa daya, sombong dan bangga diri membuat lupa bahwa kita sedang berada dalam alam yang senantiasa dapat berubah. Baik itu dari cuaca dan suhu. Baru 2 jam saya berjalan, menapaki tangga bebatuan.

Langkah semakin kecil, lelah dan rasa sakit di ujung kaki mulai menyiksa. Cuaca cerah berubah menjadi mendung, pekat diselimuti kabut. Angin berhembus, dingin sampai ke tulang. Saya tertinggal dari rombongan, menjadi pendaki terbelakang.

Ini penting bagi anda para pendaki pemula seperti saya. Bahwa bagaimanapun pendakian yang akan anda lakukan, jangan pernah menganggap rendah gunung yang akan anda daki. Fisik dan mental harus dipersiapkan. Manajemen pendakian sangatlah penting.

Air minum, makanan manakala lapar dan haus harus tersedia di dalam carrier untuk asupan makanan dan penambah tenaga diperjalanan. Sekali lagi, jangan menganggap pendakian gunung anda sepele. Segala sesuatunya harus dipersiapkan, karena alam mudah berubah. Dapat menjadi jurang kematian bagi anda sendiri.

Sampai di pos 4 sebelum sendang drajat jam 12.00 WIB. Saya berjalan sangat lambat sekali. Sepatu seperti menggigit ujung kaki, dingin mendekap lalu alam memberikan kesan kuat bahwa dia bukan untuk dilawan. Di pos 4 saya istirahat sendirian, membuka makanan ringan dan minum secukupnya.

Lalu kemudian melanjutkan perjalanan. Perlahan pasti tapi, kata yang pas untuk cara berjalan saya menuju sendang drajat. Jam 12.30 WIB saya sampai di sendrang drajat, kembali bergabung dengan satu tim. Udara semakin dingin. Tenda segera didirikan, lalu semua barang dimasukan.

Ini camp pertama saya di sendang derajat. Sore hari langit semakin mendung, suhu bertambah dingin dan mulai turun hujan. Dari sore hari setelah mengisi perut dengan makanan, saya hanya berdiam diri di dalam tenda.

Hujan semakin deras. Perlengkapan tidur mulai dikenakan. Semakin dingin, saya putuskan untuk tidur saja untuk memulihkan tubuh dari kelelahan agar pendakian besok ke puncak bisa dilakukan dalam keadaan tubuh yang fit.

17 desember 2010, pagi hari dengan langit yang masih tertutup kabut. Perjalanan dilanjutkan setelah makan dan meminum segelas kopi. Suhu tetap dingin, dan saya mengenakan jaket menjaga tubuh agar tetap hangat. Jam 11.00 WIB saya dan tim tiba di puncak hargo dumilah gunung lawu. Angin berhembus, kencang semakin menampilkan alam yang menyeramkan.

Turun Melalui Jalur Cemoro kandang. Sejak awal saya merencanakan untuk turun melalui jalur cemoro kandang. Berbeda dengan jalur cemoro sewu yang berupa tangga batu, jalur ini lebih terkesan natural. Jalan setapak, tanah dan bebatuan.

Dengan suasana yang masih berkabut, saya dan tim turun. Lebih cepat langkah-langkah kami, untuk mempersingkat waktu proses turun gunung ini. Langit masih mendung, sesaat sebelum hujan turun saya tiba di pos pendakian cemoro kandang pada jam 15.00 WIB.

Informasi Transfortasi dan Administrasi
Saya hanya bisa berbagi informasi transfortasi ini kepada teman-teman dari tasikmalaya. Karena saya hanya pernah berangkat dari tasikmalaya. Kira-kira teknis perjalanan transfortasinya seperti ini:

Tasikmalaya – Solo Jebres (Kereta Api). Solo Jebres – Tawangmangu (Bus). Tawangmangu – Pos Pendakian Cemoro Sewu (Minibus). Untuk administrasi di pos pendakian hanya Rp.5000,- Perorang.

Mengenai tarif, mungkin sudah jauh berbeda. Menurut informasi yang saya cari secara online, KA Tasikmalaya – Solo tarifnya Rp.100.000,-. Bus solo – Tawangmangu Rp.20.000,-. Dan minibus Tawangmangu – Cemoro sewu Rp.10.000,-. Untuk administrasi atau tiket masuk Rp.10.000,-/1 orang.