Pameran Kebaikan, Kisruh antara Ikhlas dan Riya

Lihatlah beberapa foto di sosial media tentang banyaknya kebaikan orang, maka niscaya hatimu akan tergetar untuk mengikutinya, atau malah menjadi dingin mengira bahwa mereka hanya berbuat riya. Kita menyangka mereka berbuat baik? atau malah menuduh mereka hanya pamer saja?

Melihat kejadian yang booming di dunia maya ini tergantung kepada cara pandang kita terhadap sebuah kebaikan. Kita tidak bisa menakar apakah orang tersebut hanya pamer saja tanpa ikhlas, atau memang sebenarnya benar-benar ikhlas, tetapi untuk apa juga dipamerkan?

Kebaikan tetaplah kebaikan, baik itu dipamerkan atau tidak, keduanya dibolehkan. Yang tidak dibolehkan adalah, kita tidak berbuat baik sama sekali kepada orang lain! sedangkan keikhlasan, kita sendiri tidak bisa menakarnya terhadap seseorang. Kita hanya bisa melihat cirinya, salah satunya yaitu tanpa pamrih.

Mari berfikir positif saja bahwa orang yang membagikan cerita kebaikannya adalah orang yang ingin memotivasi orang lain untuk berbuat baik. Sedangkan yang tidak memamerkannya adalah orang-orang yang hanya ingin tuhan saja yang mengetahuinya.

Kita harus bisa memetik maknanya. Bahwa fenomena pameran kebaikan ini mengingatkan kita untuk berbuat baik kepada orang lain, itulah hikmahnya. Dan segala sesuatu itu akan bernilai sesuai dari niatnya. Jika niat ikhlas, maka kebaikan tersebut sangat baik, jika hanya untuk pamer saja, maka tidak ada nilai lebih dari kebaikan itu sendiri.