Catatan Kecil Di Jalur Gunung Cakrabuana

cakrabuana

Seminggu setelah hari raya idul fitri, sekelompok orang dari kota tasikmalaya mendirikan tenda di sebuah gunung. Dengan penuh suka cita, bersatu dalam naungan alam dan berbagi cerita tentang perjalanan hidup mereka. Mereka adalah 16 orang yang saya sendiri ada dalam pesta kecil tersebut, berjabat tangan dan mendengar banyak kisah pengembaraan.

Hanya satu malam kami berkumpul di gunung tersebut. Setelah riang satu malam bersama, akhirnya kami harus berpisah karena beberapa diantara kelompok kami harus segera pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka yang harus pulang tersebut berjalan melewati jalur yang digunakan ketika kami naik dan saya bersama tiga orang lainnya melanjutkan perjalanan untuk turun gunung ke jalur yang berbeda. Jalan setapak yang sudah lama tidak terinjak.

Satu diantara anggota tim kami adalah seorang sesepuh yang masih memiliki jiwa petualangan tinggi, pun turun melewati jalur yang jarang diinjak ini merupakan inisiatif beliau. Ransel sudah berada di pundak, pagi setelah sarapan kami memulai perjalanan turun gunung ini. Target yang akan kami tuju yaitu puncak bukit. Tempat dimana kami akan mendirikan tenda untuk kembali menginap dan berbaur dengan alam sekitarnya.

Pucuk cemara masih basah saat itu, kami berjalan diantara rerumputan. Ilalang kuning, dimana burung-burung bernyanyi. Derap langkah dari kaki kami diiringi gesekan dedaunan dan semilir angin menjadi udara segar yang memberikan nafas panjang bagi kami.

Dalam perjalanan itu, hati saya semakin terisi oleh banyak rencana pendakian gunung. Lalu berniat untuk melanjutkan perjalanan ke gunung slamet di Jawa Tengah. Sehingga berceritalah sesepuh kami tentang gunung tersebut. Kisah demi kisah saya dengarkan dan tak terasa kami sudah mulai melihat perkampungan. Tetapi kami mulai sadar bahwa kami berada di jalur yang salah, karena target tidak terlihat. Sehingga kami harus naik kembali, lalu memotong jalur untuk mendekati target. Setelah berpindah jalur yang kami rasa benar, kami terus berjalan menuruni jalur tersebut. Ternyata sama saja, kami sampai di sebuah pasar.

Kami beristirahat sejenak dan berfikir tentang target yang akan dituju. Kembali lagi ke jalur ketika kami turun tidak mungkin karena fisik juga mulai melemah, akhirnya kami memilih berjalan melewati jalan raya. Di pinggir jalan aspal. kami berjalan kaki dan membidik target. Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Kami terus berjalan dan pada akhirnya dapat melihat target.

Sebuah puncak bukit dimana ada sebuah toer tinggi. Berkedip-kedip sebuah lampu diatasnya. Sehingga tidak membuat kami kesulitan untuk sampai disana. Akhirnya, setelah beberapa jam kami berjalan, kami sampai di sebuah dataran yang cukup luas, puncak bukit dimana terlihat sebuah kota dengan terang lampu-lampu di sekitarnya. Tenda kami dirikan. Pemandangan yang cukup indah ini membuat lelah kami terbayar. Udara sejuk, dingin, beberapa makanan ringan dan secangkir kopi membuat lengkap peristirahatan ini.

Kembali berbaur dengan alam. Kami banyak berdiskusi hingga larut malam. Bercerita tentang pencapaian dan tujuan lain dari kehidupan. Satu demi satu cita-cita lahir. Juga ada banyak kesadaran yang muncul dari diri saya pribadi tentang semua itu. Waktu berbicara pun seperti usai, karena tubuh kami sepertinya sudah meminta untuk istirahat. kami semua terlelap di dalam tenda.

Catatan kecil di bulan Agustus 2012
Lokasi: sekitaran gunung cakrabuana