3 Gas Beracun Gunung Berapi yang Perlu Diketahui Pendaki

3 Gas Beracun Gunung Berapi

Gas Beracun Gunung Berapi – Seseorang yang tersesat, keluar dari jalur pendakian yang umum digunakan dapat memasuki kawasan mengandung gas beracun. Gas beracun adalah salah satu ancaman dari luar yang bisa membuat seorang tak sadarkan diri, tidak bisa bernafas dan beresiko kematian.

Sedikitnya ada 3 gas beracun yang perlu diwaspadai, apalagi jika dalam keadaan survive atau bertahan hidup ketika tersesat di gunung berapi. Berikut adalah 3 gas racun gunung berapi, ancaman dari luar bagi survivor:

FUMAROL
Fumarol adalah gas yang keluar dari gunung berapi yang meletus. Gas racun ini berasal dari air yang terdapat dicelah batuan atau dipermukaan bumi terpanaskan lava/magma sehingga terpancar keluar sebagai uap panas.
Fumarol sebenarnya dikenal sebagai lubang atau retakan pada gunung berapi yang mengeluarkan uap dan gas sulfur dioksida, hidrogen sulfida dan karbon dioksida.

MOVET
Gas beracun yang satu ini cukup berbahaya jika terhirup oleh manusia. Gejala yang diakibatkan oleh menghirup gas movet ini diantaranya adalah pusing, telinga berdengung, lemah, sakit kepala, mual, jantung berdetak keras, lutut tidak mampu menahan berat tubuh sehingga sulit untuk berjalan menyelamatkan diri dan beresiko kematian.

Movet adalah gas racun tidak berbau dan tidak berwarna dikenal dengan nama Carbon Mono Xide (CO) yang menjadi ancaman bagi survivor.

SOLFATARA
Mual dan muntah merupakan gejala seseorang yang menghirup gas racun ini. Solfatara adalah gas racun yang keluar dari belerang. pada kondisi tertentu dapat mematikan.

Gas beracun ini termasuk ancaman yang dapat membuat seseorang meninggal dunia. Solfatara dapat dikenali keberadaannya dengan adanya bau yang khas seperti gas oksida belerang pada umumnya, berbau busuk seperti bau kentut.

Upaya atau tindakan yang dapat menjadi pertolongan pertama bagi seseorang yang menghirup gas beracun ini adalah dengan membawa korban ke tempat dengan udara yang bersih atau steril, lindungi dari tempat yang dingin.

Upaya nafas buatan juga dapat membantu apabila korban mengalami kesulitan bernafas. JANGAN menggunakan metode mulut ke mulut jika korban menelan atau menghirup zat tersebut. Gunakan peralatan medis.